Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah al-khasyyah (rasa takut kepada Allah).” [Shifatush Shofwah, 1/416]
Muhammad bin Wasi’ (seorang Tabi’in) berkata, “Seandainya dosa memiliki bau, niscaya tidak seorang pun akan duduk bersamaku” (Siyar A’lamin Nubala’, Imam Adz-Dzahabi, 6/120)
“Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah. Dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia merasa bangga dengan amalnya.” (Imam Masruq; Jaami’ul ‘uluum wal hikam)
“Setiap kali setan putus asa menghadapi manusia, ia pasti menggunakan godaan wanita. Dan, tidak ada sesuatu yang lebih aku khawatirkan dari pada wanita.” (Sa’id bin Musayyab; Shifatus Shafwah)
Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Apa yang dibenci seorang hamba itu lebih baik dari apa yang dicintainya. Karena yang dibenci akan membangkitkan semangat dia untuk berdoa, sedang yang dicintainya dapat melalaikannya dari berdoa.” (min akhbaaris salaf, hlm. 219)
“Orang yang berakal bukanlah yang dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Tapi orang yang berakal adalah yang tatkala melihat kebaikan ia mengikutinya. Dan bila melihat keburukan ia menghindarinya.” (Ibnu Sirin; Hilyatul Awliya’ 8/933)
“Cukuplah kejahilan terhadap agama sebagai penyakit dan cukuplah mengikuti nafsu dan syahwat sebagai bencana.” (Syaikh ‘Abdul Muhsin)
Muhamad bin Mubarok berkata, “Aku pernah melihat Sa’id bin Abdul Aziz manakala ketinggalan shalat jama’ah, ia memegang jenggotnya dan menangis. (Hilyatul Auliya)
Ibn al-Mubarok ditanya: Sampai kapan engkau menulis ilmu?
Beliau menjawab: Boleh jadi aku belum menuliskan kalimat yang bermanfaat untukku. (Siyar A’laami an-Nubalaa 407-8)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’. Namun, apabila dia berbicara karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)
“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.” (Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin)
“Kami dahulu berkata, “Islam itu harus dengan iqrar (penetapan), dan iman harus dengan amal. Iman adalah perkataan dan perbuatan yang beriringan, tidak bermanfaat salah satunya tanpa yang lainnya. Semua orang pasti akan ditimbang perkataan dan amalnya; bila amalnya lebih berat dari perkataannya maka ia akan naik kepada Allah.. Dan jika perkataannya lebih berat dari amalnya, maka ia tidak naik kepada Allah.” (Imam Az Zuhri; Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 7/295)
“Kemarahan awalnya adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan. Jika engkau dalam puncak kemarahan maka janganlah sekali-sekali mengambil keputusan. Dan jika dalam puncak kegembiraan maka janganlah engkau menjanjikan sesuatu.” (Ustadz Firanda)
“Keburukan akan berkumpul ketika hawa nafsu diikuti dan angan-angan panjang. Adapun kebaikan kan berkumpul ketika mengikuti petunjuk dan senantiasa bersiap-siap untuk berjumpa dengan Allah.” (Ibnul Qoyyim)
Imam Abul Qasim at-Taimi rahimahullah berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)
“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Menuntut ilmu dan mempelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad.” (Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz)
“Penyakit ilmu adalah sombong, penyakit ibadah adalah riya.” (DR. Soleh Sindi)
Seseorang berkata, “Jadilah engkau bersama Allah sebagaimana yang dikehendaki Allah. Niscaya Allah akan bersamamu lebih dari yang engkau kehendaki.” (Ustadz Firanda)
Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)
Aku selalu menyesal jk matahari tenggelam, lantas ajalku berkurang namun amalku tdk bertambah. (Ibnu Mas’ud)
“Tidak ada sesuatupun yang paling berat bagi nafsu manusia melebihi keikhlasan karena pada keikhlasan tidak ada bagian untuk nafsu.” (Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari)
“Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas).” (Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri)
“Aku telah bertemu dengan tiga puluh Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semuanya merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan.” (Ibnu Abi Mulaikah)
“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (Sa’id bin Jubair; al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)
“Cara yang paling mujarab untuk mendapatkan ketenangan jiwa adalah tidak memperdulikan ucapan manusia dan fokus memperhatikan ucapan Sang pencipta. Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya selama di dunia akan selamat dari celaan manusia, maka dia telah gila.” (Al Imam Ibnu Hazm)
“Kebiasaan orang yang sadar (soleh) adalah suatu ibadah, sedang ibadahnya orang yang lalai adalah suatu kebiasaan.” (DR. Soleh Sindi)
“Siapa yang diberi rasa manis (nikmat) oleh dunia karena ia condong padanya, maka akhirat akan memberinya rasa pahit agar dia menjauh dari akhirat.” (Imam Ibnu as-Simak; min akhbaaris salaf, hlm. 257)
“Apabila anda stress akibat kenaikan harga barang, maka ingatlah kematian. karena ia akan menghilangkan stress tersebut.” (Bisyr bin al-harits; Hilyatul auliyaa’)
“Tidak pantas bagi seseorang menukil sebuah hukum syar’i dari salah seorang ulama kecuali setelah dia yakin kebenaran dan ketetapannya, karena dia pada hakikatnya sedang mengabarkan tentang hukum Allah.” (Imam asy-Syathibi; al-i’tishom 2/257)
“Sungguh, diantara manusia ada yang senang dengan pujian, padahal di sisi Allah ia tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk.” (Imam Abu Ishaq al-Fazari; min akhbaarissalaf hlm. 28)
“Kebahagiaan, kenikmatan, dan kesuksesan dunia dan akhirat dibangun di atas 3 rukun; Islam, Sunnah, dan ‘Afiyah (kesehatan, kesejahteraan).” (Ibnul Qayyim)
“Orang munafik itu memiliki tiga tanda: (1) Males melaksanakan ibadah ketika sendiri, (2) Semangat melaksanakan ibadah ketika ada yang melihat, (3) Dan selalu mengharapkan pujian dalam setiap perkaranya. Orang yang dengki memiliki tiga tanda: (1) Selalu menggunjing orang yang didengkinya, (2) Menjilat di hadapannya, (3) Gembira ketika orang yang didengkinya tertimpa musibah.” (Imam Wahb bin Munabbih; min akhbaaris salaf hlm. 21)
“Seorang hamba tidak akan mencapai kesempurnaan hingga ia mendahulukan agama daripada syahwatnya. Dan seorang tidak akan binasa sampai ia mendahulukan syahwatnya daripada agamanya.” (Imam al-Fudhail bin ‘iyadh; min akhbaaris salaf, hlm. 277)
Salah seorang ulama salaf berkata, “Dahulu, mereka mencari dunia menggunakan waktu sisa dari kegiatan akhirat mereka. Tapi sekarang, kita lihat orang-orang melaksanakan kegiatan akhirat dari sisa waktu kegiatan dunia mereka.” (min akhbaaris salaf)
“Dahulu, seseorang apabila melihat saudaranya melakukan sesuatu yang dibenci, maka ia akan menasihatinya dan melarangnya secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya, si penasehat mendapatkan ganjaran atas nasihatnya dan caranya. Adapun sekarang, seseorang apabila melihat saudaranya melakukan sesuatu yang dibenci, maka ia akan membuat marah saudaranya itu dan membuka aibnya.” (Imam Ibnul Mubarak; raudhatul ‘uqalaa, hlm. 176)
“Jangan kau percaya diri dengan banyaknya amal, karena engkau tidak tahu apakah amalmu diterima atau tidak. Jangan kau merasa aman terhadap dosa, karena engkau tidak tahu dosamu diampuni atau tidak. Semua amalmu tak ada yang dapat kau ketahui apa yang Allah perbuat terhadapnya, apakah Allah meletakkannya di neraka atau meletakkannya di surga?” (Imam Ibnu ‘Aun; min akhbaaris salaf, hlm. 305)
“Bisa jadi orang yang secara lahiriah selalu mengamalkan ketaatan adalah orang yang tercela di sisi Allah. Dan bisa jadi juga orang yang secara lahiriah suka berbuat maksiat adalah orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah. Karenanya, amal-amal itu hanya perkara yang masih berbentuk praduga dan bukan sebagai dalil pasti. Seseorang tidak dibolehkan berbuat berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang yang memiliki amal-amal soleh dan juga tidak boleh merendahkan orang yang memiliki amal-amal buruk. Seharusnya kita membenci keadaannya yang buruk dan bukan orangnya.” (Imam al-Qurthubi; al-mufham, 6/437)
“Jangan sampai saudara-saudaraku (mudah-mudahan Allah menjaga mereka) tertipu dengan banyaknya jumlah ahli bid’ah, karena banyaknya jumlah pelaku kebatilan dan sedikitnya pengikut kebenaran termasuk tanda dekatnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘sungguh di antara tanda-tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan banyaknya kebodohan’ (HR. Al-Bukhari). Yang dimaksud dengan ilmu adalah SUNNAH, dan yg dimaksud dengan kebodohan adalah BID’AH.” (Imam abu ‘utsman ash-shobuni; ‘aqidatus salaf ashabil hadits, hlm. 124)
“Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” (Abul Qosim Al-Qusyairi)
Berilah kesempatan seseorang untuk berubah karena seseorang yg hampir membunuh Rasul pun kini terbaring di sebelah makam beliau; Umar bin Khattab. Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yg pernah berperang melawan Agama Allah akhirnya menjadi Pedang-nya Allah; Khalid bin Walid. Jangan memandang orang dari status dan hartanya. Karena sepatu emas Fir’aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabah terdapat di surga. (Toko-Muslim. web.id via FB Status Nasehat)
Waktu akan semakin berharga bila engkau jaga dengan sebaik-baiknya, aku melihat waktu itu sesuatu yang sering disia-siakan. (Yahya bin Hubairah)
Di antara perkataan Lukmanul Hakim: Sesungguhnya Allah itu, apabila dititipkan sesuatu, Dia akan menjaganya. Sesungguhnya hikmah itu akan duduk di hadapan orang-orang miskin seperti duduknya raja. Diam itu adalah sebuah hikmah, namun sedikit yang melakukannya. (Dr Farhan bin ’Ubaid)
Maimun bin Mahran mengatakan, “Mengambil simpati masyarakat (asal tidak dalam dosa, pent) adalah separo akal. Pertanyaan yang bermutu adalah separoh ilmu. Hemat dalam belanja adalah separoh biaya hidup.” [Raudhatul Uqala karya Ibnu Hibban al Busti hal 21]