Archive for June, 2013

Taubat dari Zina

Berikut ada kisah yang bisa diambil pelajaran mengenai wanita yang ingin bertaubat dari zina dengan ingin menjalani hukuman rajam. Hukuman rajam dikenakan bagi orang yang telah menikah lantas berzina dengan cara dilempar batu hingga mati.

Siapa yang menjalani hukuman ini yang dijalankan oleh pemerintahan muslim (bukan individu atau kelompok Islam tertentu), maka dosanya bisa dimaafkan. Ini bagi orang yang benar-benar jujur dalam bertaubat dan menyesali dosa yang telah ia perbuat.

Adapun ketika hukum ini tidak dijalankan oleh penguasa, maka hendaklah pelaku zina bertaubat dengan sungguh-sungguh, benar-benar menyesali dosanya, meninggalkan dosa tersebut dan bertekad tidak lagi mengulanginya.

Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al Hushain Al Khuza’i, ia berkata,

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهِىَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَىَّ فَدَعَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلِيَّهَا فَقَالَ « أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَائْتِنِى بِهَا ». فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّى عَلَيْهَا يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ « لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى »

Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina.

Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapati hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman had atas diriku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).”

Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil dan diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen).

Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Setelah matinya wanita tersebut, beliau menyolatkannya. ‘Umar pun mengatakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?”

Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?”

[HR. Muslim no. 1696]

Beberapa faedah dari hadits di atas :

1. Wanita tersebut termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi orang sholih pun masih ada kemungkinan untuk terjerumus dalam zina.

2. Zina termasuk dosa besar.

3. Hukuman rajam dijalani dengan melempar batu hingga mati, batu di sini tidaklah terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Hukuman rajam ini dikenakan pada muhshon, yaitu orang yang sudah menikah lantas berzina.

4. Orang yang dikenai hukuman rajam ini atas hikmah dari Allah tidaklah diperintahkan dipenggal dengan pedang.

Namun ia dilempari batu sehingga ia bisa merasakan siksa sebagai timbal balik dari kelezatan zina yang haram yang telah ia rasakan.

Karena orang yang berzina telah merasakan kelezatan yang haram dengan seluruh badannya, jadi jasadnya disiksa sekadar dengan nikmat haram yang ia rasakan.

5. Boleh seseorang mengakui dirinya telah berzina pada penguasa untuk membersihkan dosanya dengan menjalani hukuman had, bukan untuk maksud menyebarkan aibnya.

Jika seseorang ingin menyebarkan aibnya sendiri bahwa ia telah menzinai orang lain, maka dosa ini tidak dimaafkan. Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya.

Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.”

[HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990]

6. Apakah seseorang harus melaporkan tindakan zinanya pada penguasa sehingga mendapat hukuman had atau ia sebaiknya menyembunyikannya sembari bertaubat?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa dalam hal ini ada rincian.

Rincian pertama : jika seseorang yang berzina dapat melakukan taubat nashuha (taubat yang tulus), ia betul-betul menyesali dosanya dan bertekad tidak akan melakukannya lagi, maka lebih baik ia tidak pergi pada penguasa untuk melaporkan tindakan zina yang telah ia lakukan dan ia melakukan taubat secara sembunyi-sembunyi. Moga Allah menerima taubatnya.

Rincian kedua : jika seseorang sulit melakukan taubat nashuha, ia takut terjerumus lagi dalam dosa yang sama, maka lebih baik ia mengakui perbuatan zinanya dengan melapor pada penguasa atau pada qodhi (hakim), lantas ia dikenai hukuman had.

7. Wanita hamil tidak dikenai hukuman had sampai ia melahirkan kandungannya. Jika hukuman cambuk dilaksanakan bagi orang yang belum menikah lantas berzina, maka menunggu sampai wanita itu suci dari nifasnya. Bila hukuman rajam dijalankan maka menunggu sampai kebutuhan susu pada anak tersebut sudah tercukupi walau dengan penyusuan pada wanita lain.

8. Hukuman dunia bisa menghapuskan dosa orang yang berbuat maksiat asal disertai dengan taubat dan penyesalan.

Referensi :

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 65-66.

Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhish Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho, dll, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 30.

Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 1: 166-169.

Sumber :

http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/4398-wanita-yang-ingin-bertaubat-dari-zina.html

Artikel Lain :

Melebur Dosa dengan Taubat yang Tulus

 

sahabat nabi

Tujuan dakwah Islam bukan semata-mata agar manusia mengucapkan la ilaha illallah namun harus disertai dengan ketundukan terhadap kandungan dan konsekuensi ucapan itu yang berupa tauhid dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga syahadat la ilaha illallah harus disertai dengan keimanan kepada segala ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/56])

Abu Bakar, khalifah yang tidak asing bagi kita. Manusia terbaik sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebijaksanaan yang beliau ambil merupakan cerminan kedalaman ilmu dan ketakwaan yang beliau miliki.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau meriwayatkan:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru saja wafat dan kemudian Abu Bakar radhiyallahu’anhu diangkat sebagai khalifah sesudah beliau meninggal, pada saat itu sebagian bangsa Arab kembali kepada kekafiran.

Ketika itu Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana mungkin engkau akan memerangi orang-orang itu -maksudnya adalah kaum yang enggan membayar zakat, pent- sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan la ilaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan la ilaha illallah maka dia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali apabila ada alasan yang benar -untuk mengambilnya-. Adapun hisabnya adalah terserah kepada Allah ta’ala?”

Maka Abu Bakar pun mengatakan, “Demi Allah! Benar-benar aku akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena zakat adalah hak atas harta. Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku akan memerangi mereka jika mereka berkeras tidak menyerahkannya.”

Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan aku yakin karena Allah memang telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Faidah Hadits

Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allah. Hadits di atas menyimpan banyak pelajaran berharga. Berikut ini sebagian kecil diantara pelajaran penting yang bisa kita petik darinya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita…

Hadits ini menunjukkan bahwa golongan orang yang bersepakat untuk tidak membayarkan zakat di masa Abu Bakar menjabat khalifah disamakan hukumnya (baca: diperangi) dengan orang-orang yang menjadi kafir/murtad karena mengikuti nabi palsu semacam Musailamah al-Kadzdzab dan al-Aswad al-Ansi. Mereka disamakan status hukumnya sebagai orang yang berhak untuk diperangi. Namun, hal itu tidak berarti setiap individu orang yang enggan membayarkan zakat tersebut dikafirkan (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/54])

Abu Bakar memerangi mereka bukan karena murtad -walaupun ada juga yang murtad di antara mereka-. Namun hal itu beliau lakukan karena mereka telah membatalkan ikatan perjanjian keselamatan yang berupa pembayaran zakat. Sebagaimana orang yang menolak kewajiban sholat berhak untuk diperangi, maka demikian pula orang yang menolak membayar zakat. Oleh sebab itu Abu Bakar mengatakan, “Sungguh, aku akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta.” Golongan yang tidak mau tunduk membayar zakat ini dikategorikan sebagai pemberontak (ahlul baghyi), bukan murtad. Sebagaimana diterangkan oleh an-Nawawi. (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/53])

Perlu diperhatikan pula, bahwa mereka -orang-orang yang tidak membayar zakat- melakukan hal itu karena ta’wil dan bukan karena mengingkari wajibnya zakat (faedah ini bersumber dari keterangan Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah dalam Daurah Shahih Muslim di Kaliurang, lihat juga keterangan an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/53-55]).

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan ucapan Abu Bakar yang akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat, hal itu menunjukkan bahwa kebolehan memerangi orang-orang yang tidak mau menunaikan sholat adalah perkara yang sudah disepakati oleh para Sahabat. (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/53])

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan,

Apakah jika ada sekelompok kaum muslimin di masa kita yang mengingkari wajibnya zakat dan menolak untuk membayarkannya maka diterapkan kepada mereka hukum sebagaimana pemberontak -seperti di masa sahabat, pen-?

Maka kami katakan: Tidak. Karena sesungguhnya orang yang mengingkari wajibnya zakat di masa ini adalah kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/55])

Faidah lain dari hadits di atas; hadits ini menunjukkan bahwa dalil umum bisa dikhususkan dengan dalil qiyas (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/53])

Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah menjelaskan, hadits ini menunjukkan bahwa memulai penyerangan kepada kaum musyrikin -bukan karena agresi- adalah perkara yang disyari’atkan -tentu saja jika kondisi kaum muslimin kuat-, hal ini disebut sebagai jihad thalab. Sehingga ini menjadi bantahan bagi sebagian orang yang mengingkari adanya jihad thalab/ofensif dalam Islam. [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Syaikh Walid juga menerangkan, hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang mendapatkan perintah, bukan pembuat syari’at. Beliau memerintah karena diberikan izin untuk memerintah. [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Syaikh Walid menerangkan, perintah untuk memerangi ini tidak mengharuskan untuk membunuh. Sebab qital/perang berbeda dengan qatl/pembunuhan [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Syaikh Walid menerangkan, hadits ini menunjukkan bahwa orang kafir -maksudnya kafir harbi/yang memerangi umat Islam, pen- adalah tidak terlindungi hartanya, dalam artian boleh diambil hartanya -yaitu dalam situasi perang, pen- [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Hadits ini juga menunjukkan hendaknya seorang yang telah tampak kepadanya kebenaran pendapat oranglain/lawan debatnya maka dia harus mengikuti/rujuk kepadanya (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/60])

Hadits ini menunjukkan hujjiyah/keabsahan berdalil dengan analogi/qiyas yang sahih. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu. Beliau melandasi tindakan memerangi orang-orang yang bersepakat untuk membayar zakat dengan dalil mengqiyaskan antara sholat dengan zakat (catatan Daurah Shahih Muslim, lihat juga Syarh Muslim li an-Nawawi [2/59])

Syaikh Walid menerangkan, di antara faedah hadits ini adalah menunjukkan bolehnya berdebat/berdiskusi dalam rangka mencari kebenaran dan dilakukan dengan penuh sopan santun. [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya mendebat orang-orang yang lebih senior atau pemimpin demi menampakkan kebenaran (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/59])

Hadits ini juga menunjukkan bahwa kekokohan ilmu seseorang itu akan tampak ketika terjadinya fitnah [faedah dari salah satu ceramah Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah]

Hadits ini juga menunjukkan keberanian Abu Bakar dan kedalaman ilmunya dibandingkan para Sahabat yang lain. (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/59])

Di antara faedah hadits ini juga adalah hendaknya taat kepada pemerintah dalam perkara-perkara ijtihadiyah. [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Hadits ini menunjukkan bolehnya berijtihad dalam perkara-perkara nawazil (masalah baru) dengan cara mengembalikannya kepada ushul/dalil-dalil yang ada. (catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang, lihat juga Syarh Muslim li an-Nawawi [2/60])

Hadits ini menunjukkan haramnya memberontak kepada penguasa muslim yang sah. Syaikh Walid menerangkan, hadits ini juga menunjukkan wajibnya memerangi pemberontak.

Memerangi pemberontak/bughat merupakan bagian dari jihad. [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Faidah lainnya, hukum di dunia ditegakkan berdasarkan apa yang tampak, bukan apa yang di dalam batin [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]. Sebab urusan batin kita serahkan kepada Allah (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/59]).

Syaikh Walid menerangkan, di antara faedah hadits ini adalah tidak bolehnya mengkafirkan ahli bid’ah -yang bid’ahnya tidak sampai derajat kafir, pen- begitu pula para pelaku kemaksiatan [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Tujuan dakwah Islam bukan semata-mata agar manusia mengucapkan la ilaha illallah namun harus disertai dengan ketundukan terhadap kandungan dan konsekuensi ucapan itu yang berupa tauhid dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga syahadat la ilaha illallah harus disertai dengan keimanan kepada segala ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [2/56])

Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal lahir adalah bagian dari iman. Sehingga hadits ini menjadi bantahan bagi kaum Murji’ah yang menganggap bahwa amal bukan termasuk iman. Syaikh Walid mengatakan, di antara faedah hadits ini adalah iman itu mencakup ucapan dan perbuatan, ini merupakan bantahan bagi Murji’ah [catatan Daurah Shahih Muslim di Kaliurang]

Wallahu a’lam bish shawaab

Sumber : http://pemudamuslim.com/manhaj/di-balik-kebijakan-khalifah-abu-bakar/