image

Pernah mendengar atau menyaksikan praktik pengobatan alternatif memindahkan penyakit ke hewan..?

Banyak dari kita yang merasa putus asa dengan penyakit yang tak kunjung sembuh, melakukan usaha pengobatan ke berbagai tempat namun harapan untuk sembuh pun tak kunjung datang..

Sampai-sampai sebagian masyarakat kita menggadaikan aqidahnya dengan mengambil risiko berobat kepada “mbah dukun” yang konon katanya memiliki kesaktian mentransfer penyakit dari manusia ke hewan tertentu. Hewan yang digunakan bisa berupa ayam, kambing, sapi, atau yang lainnya..

TANDA KEBERHASILAN PENGOBATAN

Terdapat 2 (dua) poin yang merupakan tanda “keberhasilan” ritual pengobatan tersebut..

Pertama, pasien tidak lagi merasakan sakit pada tubuhnya setelah prosesi pengobatan tersebut. Dengan kata lain, seolah-olah penyakitnya sudah hilang..

Kedua, terdapat tanda-tanda kerusakan pada bagian tertentu dari hewan yang dijadikan objek tersebut. Hal ini menandakan bahwa penyakit telah ditransfer dari pasien dan telah diterima oleh hewan..

Biasanya pasien yang berobat dengan cara ini adalah pasien yang memiliki penyakit berat atau penyakit dalam sehingga untuk membuktikan bahwa penyakit telah ditransfer, maka setelah proses pengobatan dilakukan penyembelihan hewan tersebut untuk melihat pengaruh pada bagian dalamnya..

Setelah tubuh hewan dibedah di hadapan pasien, para saksi atau penonton, tentu saja kita akan melihat hal yang “menakjubkan” ketika diperlihatkan bagian tubuh hewan (yang sudah mati) tersebut seperti jantung hewan yang masih berdenyut atau berdetak-detak dan ditemukannya kerusakan-kerusakan pada bagian-bagian tertentu (sesuai dengan bagian tubuh pasien yang sakit)..

Jika pasien menderita penyakit pada bagian hati misalnya, maka dapat disaksikan bahwa bagian hati hewan tersebut telah rusak. Atau “sang dukun” justru menjelaskan apa saja penyakit yang sebenarnya diderita oleh pasien dengan menunjukkan bagian-bagian yang rusak pada tubuh hewan tersebut..

Apakah pengobatan seperti ini wajar? Apakah metode ini terbukti secara ilmiah? Apakah syariat membolehkan cara-cara seperti ini?

MEMBONGKAR TIPU MUSLIHAT

Setidaknya ada 4 (empat) poin yang harus kita diperhatikan dalam masalah ini..

1. Cara seperti ini tentu saja belum terjamah oleh pengobatan modern..

2. Mendzolimi hewan dan mendapat ancaman dilaknat oleh Allah ta’ala..

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menjadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran.” [HR. Muslim no. 1957]

Imam Nawawi menjelaskan, “Larangan dalam hadits ini sampai tingkatan haram. Untuk itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Ibnu Umar bersabda, “Allah melaknat orang yang melakukan ini, karena ini adalah penyiksaan terhadap binatang.” [Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim 13/108]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إِنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئاً فِيْهِ الرُّوْحُ غَرْضاً

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran.” [Muttafaq ‘alaih]

3. Korban dukun asli..

Praktik pengobatan seperti ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah konspirasi iblis melalui tangan-tangan dukun.

Berdasarkan pengalaman praktisi ruqyah syar’iyyah, ada pengakuan dari jin mengenai “keberhasilan” pengobatan tersebut..

Yakni terdapat dua kelompok jin yang bertugas dalam hal ini..

Satu kelompok jin masuk ke tubuh hewan untuk menyakiti dan merusak bagian-bagian atau organ-organ tubuh sesuai dengan organ tubuh pasien yang diduga sakit..

Kelompok jin yang lainnya bertugas masuk ke tubuh pasien untuk menahan syaraf-syaraf rasa sakit pada organnya sehingga pasien tidak lagi merasakan sakit dan menganggapnya sudah sembuh..

Apakah penyakit pasien benar-benar sembuh? Silahkan dijawab sendiri..

4. Korban dukun palsu..

Bisa jadi yang Anda kunjungi hanyalah dukun palsu. Sedangkan Anda telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit..

Silahkan saksikan kisah menarik berikut https://elmuntaqa.wordpress.com/2014/08/18/liver-temanku-diganti-dengan-hati-ayam/

Kadang kalanya “sang dukun” memberikan kriteria khusus yang sulit ditemukan untuk jenis hewan yang nantinya anak dijadikan objek..

Misalnya hewan tersebut haruslah ayam yang pernah bertelur pada malam jum’at kliwon, tentu saja pasien akan kelabakan mencari ayam yang seperti itu. “Sang dukun” memang sengaja memberikan syarat yang rumit agar pasien tidak mendapatkannya, lalu “sang dukun” akhirnya bisa menawarkan ayam miliknya yang katanya pernah bertelur di malam jum’at kliwon, tentunya dengan harga tinggi..

Jika dukun benar-benar memiliki kesaktian tersebut, mengapa tidak dilakukan transfer penyakit dari manusia ke tubuh nyamuk yang sudah mati..?

BAHAYA PERDUKUNAN

Demikianlah fenomena kisah nyata yang dapat kita saksikan bersama di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut tentunya disebabkan karena lemahnya aqidah, bobroknya tauhid, jauhnya dari pemahaman agama yang benar dan dekatnya dengan kesyirikan..

Semoga kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan berhati-hati agar tidak terjatuh pada perbuatan maksiat kepada-Nya apalagi sampai terjerumus dalam dosa besar, bid’ah, dan kesyirikan..

Ketaatan akan membawa kita kepada kebahagiaan dan keberuntungan sedangkan maksiat akan membawa kita kepada kehinaan dan kebinasaan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِراً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[HR. Al-Bazzar, 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya 1/393 dan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan ancaman walaupun hanya sekedar bertanya kepada dukun :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”

[HR. Muslim, 4/1751 no. 2230 dari sebagian istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam]

Allahu a’lam..

Oleh : Esha Ardhie
Artikel elmuntaqa.wordpress.com

Keutamaan Anak Perempuan

Keutamaan Anak Perempuan

Bagi sebagian orang, kehadiran anak perempuan merupakan aib dan dianggap bencana. Mereka sedih dan kecewa jika dikaruniai anak perempuan. Padahal kehadiran anak perempuan juga termasuk nikmat dari Allah.

Beruntunglah mereka yang memiliki anak perempuan dan mereka bersabar dalam mengasuh dan mendidiknya.

Al Imam Muslim rahimahullah membuat sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul (باب فَضْلِ الإِحْسَانِ إِلَى الْبَنَاتِ) “Keutamaan Berbuat Baik kepada Anak-Anak Perempuan”. Beliau membawakan tiga hadits sebagai berikut :

Pertama. Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ 

“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu akau berikan sebuah kurma tersebut untuknya.

Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya.

Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka.”

[HR. Muslim 2629]

Kedua. Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ 

“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu  aku memberinya tiga buah kurma.

Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri.

Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya.

Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka”

[HR. Muslim 2630]

Ketiga. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). [HR. Muslim 2631]

Faedah Hadits

1. Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan anak-anak perempuan dalam agama Islam. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberi nafkah kepada mereka, serta bersabar dalam mengurus seluruh urusan mereka.”

2. Anak perempuan merupakan ujian bagi orangtua. Sebagian orang tidak suka dengan kehadiran anak perempuan dan sangat bergembira ketika memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu kehadiran anak-anak perempuan dianggap sebagai ujian.

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebgai ibtilaa’ (ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka.” Hal ini juga sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah, Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya.

Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

[An Nahl : 58]

3. Yang dimaksud mengayomi anak perempuan adalah menunaikan hak-hak mereka seperti makan, pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Yang dimaksud (عَالَ) adalah menunaikan hak-hak dengan menafkahi dan mendidik mereka serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.”

4. Terdapat ganjaran yang besar bagi orangtua yang mengayomi anak perempuan mereka, berupa nikmat surga, terhalangi dari siksa api neraka, dan kedekatan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat.

Saudaraku, lihatlah bagaimana Islam memuliakan anak perempuan dan memberi ganjaran khusus bagi orang tua yang mau mengayomi anak-anak perempuan mereka. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita keturunan yang shalih dan shalihah. Wallahul musta’an.

Referensi :

Syarh Shahih Muslim, Imam An An Nawawi rahimahullah.

Sumber :

http://muslim.or.id/keluarga/ganjaran-memelihara-dan-mendidik-anak-perempuan.html